Minggu, 06 September 2015

KUTEMUKAN KEBAIKAN ALLAH DI RUMAH INI

Foto Polwan Resort Flotim bersama Pengelola dan anak-anak Panti Asuhan Acamister Duli Onan



Rumah ini menghadirkan cerita, sedih namun bahagia, miris tapi mandiri. Rumah yang bernama Panti Asuhan Acamister Duli Onan yang terletak di Watowiti, kurang lebih 5 KM ke timur kota Larantuka, adalah rumah sederhana dengan cerita yang menghentakkan jiwa, membuat yang hadir langsung meneteskan air mata. Betapa tidak, disanalah seorang Arnoldo Dominiko Duli Uran bersama istri dan saudarinya membesarkan 32 anak divabel total ganda berat baik fisik maupun mental, yang ditolak keluarga, dan masyarakat. Disisihkan karena mereka tidak sama dengan mereka yang lain, tidak sama dengan kita yang biasanya. Mereka begitu sumringah, dan ramah ketika ada yang hadir, tidak ada kesedihan di wajah lugu mereka walaupun mereka sendiri tinggal di bawah rumah berukuran kecil yang dinamai rumah Fransiskus, dengan tempat tidur seadanya. Malah ada 2-3 orang harus tidur diatas satu tempat tidur seolah melupakan sejenak kelelahan atas hidup ini, seolah mengiyakan kondisi ini sebagai sebuah berkat.
Dengan keterbatasan fisik, Mereka masih  memberikan cinta itu pada orang lain

Dan inilah hidup mereka, yang tak terbantahkan lagi, tidak mengemis untuk dibantu walaupun mereka membutuhkannya. Mereka hanya membutuhkan bantuan dari orang benar-benar memberi dengan hati bukan untuk mengambil keuntungan dari derita mereka tersebut, itulah ajaran yang penting dari mereka. Karena semuanya dibangun dari hati, kasih dan sayang. “ Jika anda pergi, bawalah apa yang anda bawa ketika datang, namun tinggallah hatimu disini; dan Katakan kepada dunia juga mereka di sana, bahwa di sini sedang dibangun kerajaan surga,” pesan Arnoldo sebelum kami berangkat kembali. Memang Tuhan itu Maha Murah, Maha Pengasih.
 
Tuhan, Merekalah SurgaKu

Kamis, 06 Agustus 2015

profile KWM Flotim



PROFILE
KOMUNITAS WISATA MENULIS KABUPATEN FLOTIM



A.            LATAR BELAKANG

Komunitas Wisata Menulis (KWM) Kabupaten Flotim lahir dari ide dan gagasan Wentho Eliando, yang sehari-hari di wilayah Kabupaten Flotim berprofesi sebagai wartawan di Harian Umum Flores Pos. Wentho Eliando bersama sejumlah wartawan, penulis, bloggers, dan facebookers di wilayah Kabupaten Flores Timur, menyatakan bahwa sesungguhnya, Flotim itu kaya: alam isinya, adat istiadat, keunikan kebudayaan, dan ramah manusia didalamnya.
Kekayaan yang dimiliki itu, selain tidak diekplor dan diekspos secara baik serta terpadu kepemukaan, juga disebabkan minimnya perhatian, kreatifitas dan inovasi mumpuni, baik dari masyarakat dan apalagi kelompok kepentingan pemerintahannya. Kekayaan alam sebut saja isi pariwisata, misalnya, selain Semana Santa sebagai ikon wisata Flotim yang menggerakan. Di tanah Lamaholot, Flotim menyimpan kekayaan, keindahan alam dan keunikan budaya lainnya yang sudah barang tentu bernilai dan bercitra rasa tinggi.
Komunitas Wisata Menulis Flotim, yang lahir dari gagasan brilian seorang yang tidak mengenal Flotim secara lebih mendalam, sesungguh hadir di tanah Lamaholot untuk mengungkap sekaligus mengajak semua didalamnya untuk mengatakan kepada dunia akan sesuatu yang sudah dan sama sekali belum diketahui banyak mata dan hati. Dan tentu tidak berlebihan pula (mungkin saja) untuk semua manusia penghuni Lewotana Lamaholot, Flotim.
Komunitas Wisata Menulis Flotim, lahir sebagai sebuah wadah dan media yang berupaya membuka ruang alam, adat dan kebudayaan, kehidupan sosial ekonomi, tantangan dan hambatannya dalam bingkai; "tak kenal maka tak sayang" pada dunia. Dalam kesibukan dan kepenatan sambil berwisata, manusia-manusi didalamnya; Komunitas Wisata Menulis--melihat, mendengar dan mengalami lalu menulisnya di berbagai media internet (online), cetak dan elektronik, sebagai harga dari sebuah tanggung jawab.

B.            VISI DAN MISI
1. VISI: Wisata Menulis
2. MISI:
- Memperkenalkan wisata alam dan budaya di Flotim melalui tulisan-tulisan juga dengan kegiatan lainnya.
- Merangsang Pemerintah Daerah untuk melihat dan membenahi sejumlah kekurangan di lokasi wisata sebelum menetapkannya sebagai daerah destinasi wisata baru di Flotim.

C.            KEGIATAN YANG SUDAH DILAKSANAKAN
Sejauh ini Komunitas Wisata Menulis (KWM) Flotim telah melakukan banyak kunjungan ke tempat wisata baru dan menghadiri sejumlah ritual adat di wilayah Flotim sambil mempelajari kondisi lokasi tersebut dari sisi infrastruktur agar mampu menjadi daerah destinasi wisata di Flotim.
Tempat-tempat tersebut antara lain: Air Terjun Wai Nuwu di desa Lewobele, Pantai Selatan Lewoawang - Kecamatan Ilebura, Pantai Riangsunge - Solor Barat, Pesona Wisata di Kawasan Tanjung Bunga, Ritual Adat Koke Bale di Lewokluok - Kecamatan Demon Pagong, dan Ritual Adat Wu’u Nuran di Desa Balawelin - Kecamatan Solor Barat.
“Flotim Dalam Cinta: Melihat, Mendengar, Mengalami dan Menulis”.

D.   PENUTUP
Komunitas Wisata Menulis (KWM) Flotim, seyogianya menjadi wadah bagi siapa saja untuk dapat berani menyatakan cinta Lewotana, menjadi wahana membuat sesuatu yang berbeda diantara yang berbeda dalam membangun Flotim. Semoga.
 SALAM KWMFLOTIM               
“FLOTIM SATU CINTA”

Sabtu, 11 Juli 2015

Ritual Adat Koke Bale


 * Desa Adat Lewokluok


Wentho Eliando (Wartawan Flores Pos-Larantuka)
Masyarakat adat Desa Wisata Lewoklouk di Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur (Flotim) menggelar upacara adat Koke Bale atau upacara memberi kesejukan bagi masyarakat Demon Pagong. Upacara adat Koke Bale digelar setiap tahun dan biasanya pada awal atau pertengahan Juni.



Ritual acara adat Koke Bale diawali dengan membersihkan Koke (Rumah Adat). Setelah melakukan pembersihan Koke, ditentukan waktu memperbaiki atap Koke yang rusak. Waktu selanjutnya, setelah memperbaiki atap Koke. Pada bagian bubungan atap tidak ditutup. Dalam posisi masih terbuka, lalu ditentukan waktu lagi melakukan upacara Tuhuk Glewong (tutup bubungan atap korke).

Setelah Tuhuk Glewon, dilakukan ritual adat di mata air Wai Maki. Ritual ini dilakukan oleh tetua adat. Ada kurban berupa binatang dan membawa ketupat. Dimasak dan langsung dimakan sampai habis di lokasi mata air. Setelah itu pada hari berikutnya di gelar serimoni adat di rumah suku Kabelen, suku Lein dan suku Lewolein. 



Dalam serimoni tersebut, masing-masing menghidupkan dan membawa damar keluar menuju Koke lalu semuanya kembali ke suku masing-masing. Pada hari berikutnya, dilakukan upacara penyembelian korban yang dibawah masing-masing suku. Upacara tersebut dilakukan di areal Koke Bale dan dihadiri semua suku di Lewokluok. Korban yang disembeli diletakan pada tempat khusus di areal Koke Bale sampai hari berikutnya dipotong daging kurban untuk di makan.


Rumah-rumah adat yang ada di areal mengelilingi Koke Bale merupakan rumah suku-suku yang ada di kampung adat Lewokluok. Uniknya dalam rumah besar suku Kabelen memiliki 3 pintu yang masing-masing merupakan pintu Kabelen Sulung, Kabelen Tengah dan Kabelen Bungsu. Pada bagian dalamnya terbuka tidak disekati. Hanya memiliki 3 pintu masing-masing. Semua mereka dari suku sudah tahu pintu mana yang mesti dimasuki dalam rumah suku itu.



Rumah-rumah suku yang ada tersebut, yakni rumah Suku Kabelen, rumah Suku Lein, rumah Suku Goran, rumah Suku Beribe (memiliki 4 rumah suku), rumah Suku Nedabang, rumah Suku Lubur, rumah Suku Leinsoriki (sogekung), rumah Suku Lewati Kumanireng, rumah Suku Lewohera dan rumah Suku Suban Soge atau Wun Soge. ***






















Rabu, 20 Mei 2015

Pantai Selatan Kecamatan Ile Bura














·        Pantai Lewo Awang
“Busa Putih Yang Tak Henti Bercerita”
 SABTU, 16 Mei 2015, jarum jam di tangan menunjukan pukul 10 wita, Komunitas Wisata Menulis (KWM) Kabupaten Flotim yang didalamnya merupakan kumpulan sebagian jurnalis, penulis, bloger, dan facebookers, menelusuri wilayah Pantai Selatan Kecamatan Ile Bura. Komunitas Wisata Menulis digagas dan dimotori Wentho Eliando (Wartawan Flores Pos) yang selama ini bertugas meliput di wilayah Kabupaten Flotim.
Penelusuran di wilayah yang berada di Pantai Selatan KWM Flotim itu dimulai dari pertigaan jalan negara Trans Larantuka tepatnya di Nobo, Kecamatan Ile Bura menuju Boru, Kecamatan Wulanggitang. Pantai selatan sepanjang kawasan Nobo hingga Pantai Oa, menyimpan alam pantai yang indah dan eksotika. Salah satunya adalah kawasan pantai dengan gelombang tinggi bertingkat disertai deburan ombak bergulung-gulung memecah menyelinap dicelah bebatuan pesisir pantai yang asri berada di Desa Lewo Awang.
Pantai Lewo Awang, berjarak sekitar 45 Kilo Meter (KM) dari Kota Larantuka dan atau 13 KM arah timur Boru. Desiran ombaknya memukul keperkasaan batu yang tersusun rapi di bibir pantai. Keindahan tanpa jamahan tangan manusia. Belum lagi mata ini dimanjakan dengan pemandangan laut lepas yang luas berdampingan dengan ujung daratan Pulau Solor dan ditemani onggokan pulau-pulau di sekitarnya, yakni Pulau Kambing, Pulau Suanggi Pulau Kecil dan Pulau Besar. Sedang bebatuan di pinggiran pantai tergeletak seadanya menghiasai bentangan pasir. Ombak yang bergulung tak mau berhenti bercerita. Gulungan busa putih, berlomba berkejaran menggapai bibir pantai menabrak bebatuan. Disekelilingnya, rindang puluhan nyiur menjulang.
Selain Pantai Lewo Awang, keindahan eksotik lainnya terdapat di Pantai Nurabelen dengan pemandangan pesisir Pantai Pasir Putih yang terbentang sepanjang bagian barat Pulau Solor. Keindahan eksotik bernuasa religius juga tersedia di wilayah ini. Gua Maria Rossa Mustika dengan latar belakang hamparan laut luas yang berada di Riangbunga, Desa Riangkaha. Wajah Bunda begitu cantik dengan hiasan selendang adat kain Lamaholot. 

Keindahan Pantai Lewo Awang, Pantai Nurabelen dan Gua Maria Rossa Mustika dan sepanjang Pantai Selatan Ile Bura, menjadi sebuah keniscayaan, jika melihat realitas sarana pendukung di wilayah yang masyarakatnya bermayoritas petani mete tersebut.  Selain jalan yang masih menjadi sesuatu yang urgen di hampir semua wilayah Flotim, juga masalah listrik dan jaringan telekomunikasi handphone. Tiga tahun lalu telah dipersiapkan mulai dari penebangan mete dan kelapa milik warga serta digantikannya dengan  pemasangan tiang-tiang jaringan, namun hingga listrik belum dinikmati warga. 

Hingga kini, masyarakat setempat masih menggunakan lampu pelita dan genzet. Warga pengguna handphone misalnya harus berjalan kaki ke Desa Lewouran sekedar berbincang atau memberikan kabar kepada keluarga, sahabat dan kenalan mereka. Tentu masalah-masalah tersebut bukan hanya sekedar informasi. Keindahan Pantai Lewo Awang di selatan Kecamatan Ile Bura akan terus bercerita seiring gelombang dengan deburan ombak berbusa putih menembus celah-celah bebantuan pantai. Semoga!.


Sunset Di Ujung Pantai Kawalelo dan Pantai Lewobele

Sunset Di Ujung Pantai Kawalelo dan Pantai Lewobele




Senja di Pantai Lewobele

Senja di Lokasi Air Panas Pantai Kawaliwu, Kecamatan Lewolema




Senja di Lokasi Air Panas Pantai Kawaliwu, Kecamatan Lewolema


Minggu, 17 Mei 2015

AIR TERJUN WAI NUWU

 
AIR TERJUN WAI NUWU DI LEWOBELE. KWMNews--Air Terjun Wai Nuwu terletak di Lewobele, Desa Lewobele, Kecamatan Lewolema,Kabupaten Flores Timur. Lewobele berjarak sekitar 27 KM arah barat tepatnya di Pantai Utara, Kota Larantuka. 




·         Mata Air Terjun Wai Nuwu
“Surga Lewobele, Surganya Kota Larantuka”

SATU LAGI yang layak dijadikan lokasi wisata dan sumber air bersih alternatif, yakni Air Terjun Wai Nuwu yang terletak di Lewobele, Desa Lewobele, Kecamatan Lewolema. Desa Lewobele berada sekitar 25 kilo meter arah barat atau tepatnya berada di wilayah Pantai Utara Kota Larantuka. Desa Lewobele berbatasan dengan Desa Lewokluok di bagian barat dan bagian utara, serta Desa Ile Padung di bagian timur dan laut Flores di bagian utara.
Komunitas Wisata Menulis (KWM) Kabupaten Flotim yang didalamnya merupakan kumpulan sebagian jurnalis, penulis, bloger, dan facebookers, pada Sabtu, 9 Mei 2015, mengakrabi Air Terjun Wai Nuwu. Komunitas Wisata Menulis digagas dan dimotori Wentho Eliando (Wartawan Flores Pos) yang selama ini bertugas meliput di wilayah Kabupaten Flotim. Penelusuran ini dilakukan KWM Flotim berawal dari cerita yang berembus dan penuturan masa lalu nenek moyang kepada sebagian kecil warga di desa tersebut, bahwa di bagian gunung Aho Boang (Anjing Melolong) terdapat tiga tempat air terjun.
Menurut Martinus Lawe Koten, orang pertama yang melihat dan menemukan air terjun dan mata air Wai Nuwu terdapat tiga lokasi air terjun. Lokasi pertama dan ketiga mudah dijangkau. Tapi untuk lokasi ke dua, air terjun Wai Nuwu, sulit dijangkau karena kondisi hutan lebat. “Saya suka berburu. Awalnya saya berburu mulai dari puncak gunung Aho Boang. Saya dengar bunyi air dan ketika saya dekati rupanya air terjun,” ungkap Martinus Koten.
Rasa penasaran tinggi mendorong KWM Flotim melanjutkan perjalanan menuju air terjun pertama yang berjarak sekitar 5 KM dari kampung Lewobele. Sebuah pondok kecil milik warga KWM Flotim bercekrama bersama sekedar mengupas informasi bersama para informan. Medannya cukup berat. Maklum. Pendakian pertama melewati bukit dan mesti melewati onggokan batu-batu. Tapi, tidak bagi Martinus Koten dan Valentinus Bae dan Simon Mukin yang menemani perjalanan.
Dalam perjalanan, terdapat kubangan kecil berbentuk persegi empat yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari pusat Desa Lewobele. Ternyata, itu merupakan tempat tangkap air yang mengalir dari mata air Wai Nuwu untuk dialirkan melalui pipa-pipa menuju perkampungan Lewobele. Mata air Wai Nuwu, bisa jadi memberi harapan baru bagi masyarakat Kota Larantuka yang sudah sudah sekian lama dan bertahun-tahun mengalami krisis air bersih. Bisa disurvey dan bisa dilakukan pendekatan pada masyarakat dan pemerintah desa untuk mengatasi masalah tersebut. Air dari mata air pegunungan Wai Nuwu menjadi surganya Lewobele. Dari mata air ini, kebutuhan konsumsi air di Desa Lewobele dapat terpenuhi, meski masih sederhana dibuat perangkap pengairan. Kreatifitas dan inovatif mesti ada dalam benak semua pemangku kepentingan dan terutama pengambil kebijakan. Surga Lewobele, surganya Kota Larantuka.
Tidak berapa lama kemudian, lokasi pertama air terjun Wai Nuwu terlihat. Sungguh elok pemandangannya walaupun hanya sekitar 75 meter tingginya dan  tidak sebanding dengan air terjun yang ketiga di puncak gunung Aho Boang. “Wow...indah nian alam ini. Inilah surganya Lewobele,” ujar beberapa anggota KWM Flotim sepontan.
Matahari perlahan turun keperaduan. Langkah kaki para petualang semakin cepat karena tidak sabar menikmati sang fajar menyingsing mengalahkan siang. Di ujung sana, di pesisir Pantai Lewobele, cahaya kemerah-merahan bercampur kuning membiaskan pesona keindahan dilangit surga Lewobele. ***